Berikut Step Membuat Capcay

Anda pasti mengerti panganan yang dikenal capcay. Kuliner ini sangat cocok dijadikan sebuah menu makanan yang enak bagi keluarga Anda. Sebab, selain cita rasanya yang ekslusif, cap cay juga penuh akan kandungan gizi didalamnya. Nutrisi tersebut tentu saja cukup bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

Di samping itu, cap cay juga bisa dimasak menjadi berbagai macam hidangan makanan sehari-hari terutama dibuat menjadi sop yang nikmat. Dilengkapi berbagai rempah-rempah yang membuat sehat, kuliner ini pasti akan menaikkan selera makan Anda kembali tergugah. Baik dengan cara digoreng ataupun dengan cara dikuah, cap cai dua-duanya sama lezatnya.

Cap cay, cap cay atau capcay ialah salah satu menu masakan yang bermula dari adat masyarakat Tionghoa. Kata capcay sendiri berarti 10 sayur, namun tidak berarti kita mesti menggunakan 10 macam sayuran saat membuat capcay. Sederhananya, capcay bisa diartikan sebagai kuliner yang menggunakan banyak sayuran sebagai bahan utamanya.

Baju Menurut Islam Sesuai Tuntunan Allah dan Rasul-Nya

Merapatkan aurat adalah hak kepada setiap masyarakat muslim, bagi itu pria ataupun putri. Beberapa Syaikh madzhab Syafi’i berfatwa maka aurat untuk kelompok putra adalah yang diantara pusar dan lututnya. Sebaliknya para wanita, seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.

Secara terbuka, menggunakan segala jenis pakaian (kecuali mulai ramuan yang dilarang) yakni diperbolehkan sementara dia membungkus aurat. Tetapi, menggunakan pakaian-pakaian yang dipakai maupun disukai dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam kelihatan mendapati keunggulan sendiri dibandingkan baju polos.

Akan tetapi, tidak banyak kecil ulama menyarankan maka mengenakan busana yang dikenakan oleh Nabi semata-mata ialah kebiasaan atas negara Arab. Sehingga berawal dari pendapat ini, baju, misalnya, tidak tergolong sunnah.

Terlepas tentang tanggapan terkandung, sebagian besar ulama yakin bergagasan, sewaktu manusia menggunakan pakaian ‘sunnah’ terkandung sambil awal sayangnya terhadap Nabi, lalu ia tetap mendapatkan balasan dari cintanya tersebut.

Dalam peluang kali ini, mari kami bahas singkat bermacam-macam sunnah-sunnah Rasulullah dalam busana tiap hari.

Peci dan ‘Imamah

Saat telaah dalam sunnah memakai baju ini, kita berawal dari anggota atasan, bagaimana Rasulullah dan para sahabat.

“Dahulu (pada hari-hari di musim panas), kaum itu (Rasul dan para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150)]

Rasulullah menggunakan imamah/sorban yang dililit di kepala. Keadaan ini memiliki dasar kejadian pada saudara ‘Amr bin Harits -semoga Allah meridhoinya- pernah menyatakan:

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dengan memakai sorban hitam di kepalanya” (HR. Muslim 1359)

Gamis dan Jubah

Rasulullah benar-benar demen menggunakan gamis. Dikatakan, beliau senang memalao gamis karena dia kian menutupi sekujur anggota badan.

Dari Ummu Salamah -semoga Allah meridhoinya-, ia berkata,

“Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762)

KH Mushthofa Bisri menafsirkan hadits tentang pakaian yang paling disuka oleh Nabi ini dengan pakaian daerah masing-masing (yang menutup aurat, semisal batik). Sehingga, apabila kita mengenakan batik dengan niat mengikut Nabi (yang mencintai pakaian daerahnya, yaitu gamis), maka ia akan mendapat pahala.

Selain gamis, Nabi lumayan suka menggunakan busana luar (jubah). Ada separuh riwayat yang mengartikan mengenai kejadian ini, namun kamu kutip satu saja.

Dari Abu Rimtsah Rifaah At-Taymiy -semoga Allah meridhoinya-: “Saya pernah melihat Rasulullah memakai dua baju yang hijau”. (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

“Dua baju” yang dimaksud pada hadits ini adalah baju dalam (gamis) serta baju luar (jubah). Contohnya bisa lihat pada gambar di bawah.

Sarung

Sarung (izaar) sudah pernah muncul dan berjibun digunakan sejak era Nabi. Pada awalnya, sarung yang tampak pada masa tertera tidak sampai makin sebanding atas apa pun yang tersedia di era sekarang.

Hanya saja, pada era jahiliyyah, sebagian orang sengaja memanjangkan kain sarung atau gamisnya hingga melewati mata kaki hendak menerangkan bahwa mereka adalah orang berkecupukan alias mau menyombongkan dirinya.

Wajar saja, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam kemudian mengharamkan untuk memanjangkan kain sarung/gamis melewati mata kaki.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar -semoga Allah meridhoi keduanya-, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya di hari Kiamat kelak.’”

Dari Abu Hurairah -semoga ALlah meridhoinya- dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Kain sarung yang berada di bawah mata kaki tempatnya di Neraka.”

Ustad berpendapat oleh hadits ini, bahwasannya tabu hukumnya membentangkan kain celana/sarung/gamis melampaui mata kaki atas niatan sok. Adapun andaikan tidak mempunyai tujuan sok, lalu syaikh berbeda gagasan, setengah bergagasan makruh, sedangkan yang lainnya bergagasan mubah.